Senin, 21 Agustus 2017

Jayalah Negeriku


            “Gw kecewa sama sistem pemerintahan negara kita.” Sambil memasang wajah kecewanya. Matanya menatap lurus ring basket yang ada di seberang tempat duduknya.

            “Apalagi gw bro. korup di mana- mana, bahan pokok yang menjulang tinggi. Dan yang lebih parahnya lagi. Gw kesian sama petani garam seakan dimainkan sama dewan rakyat yang duduk pongah di kursi DPR.” Sambil terus melahap cemilannya Raga juga tidak mau kalah memuntahkan rasa kesalnya.

            “Udah tahu kekacauan terjadi di mana-mana. Bukannya diperhatikan dengan serius, malah ngurusin kegiatan anak sekolah.” Ilham mengepalkan tangan kirinya lalu menghentakkannya pada udara kosong. Seperti orang yang siap meninju lawan.

            “Kaya gak punya kerjaan ya orang-orang yang duduk dikursi pemerintahan.”

            Akhir-akhir ini anak sekolah memang sedang dibuat kesal. Mereka tidak setuju dengan adanya full day school. Menyalahkan pemerintah yang memaksa mereka untuk mengikuti peraturan.

            “Tau apa si lw lw pada tentang negeri kita?” Ucok meremehkan Ilham dan Raga yang sedang panas dibakar emosi. Sepanas siang ini.

            “Ketaun di rumah gak punya tivi.”

            Keduanya tertawa senang. Puas ketika berhasil meledek Ucok. Hal tersebut membuat Ucok remaja tujuh belas tahun itu kesal dan balik menatap sahabatnya dengan tatapan kebencian.
           
            “Makanya HP diisi paketan jadi lw bisa tau. Indonesia sedang masuk tingkat waspada.” Ilham merogoh kantung celana bagian kanan. Kulit putihnya membuat urat-urat ditangan kanannya menyepul. Dirinya mengeluarkan telepon seluler dan langsung berselancar dalam dunia maya.  

            “Nih lw baca sendiri” Ilham menyodorkan HP nya kepada Ucok. Setelah berhasil menemukan artikel yang dicarinya. Laman salah satu situs internet memuat artikel tentang full day school terbuka memenuhi hampir seluruh layar.

            Pemuda berwajah Medan itu masih belum bisa menyembunyikan kemarahannya. Ia menarik kasar benda yang barusan disodorkan padanya. Ucok menatap smartphone berukuran 5 inci milik temannya. Bola matanya berjalan ke kanan dan ke kiri. Kini ia tenggelam seakan menikmati apa yang sedang dibacanya. Kepalanya mengangguk-angguk tanda setuju dengan pemberitaan tersebut. Setelah puas membacanya Ucok lansung mengembalikan telepon selurel Ilham yang duduk di samping kirinya.

            Raga dan Ilham menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Ucok.

            “Gw setuju sama apa yang dilakukan pemerintah.”

            “Wah kacau nih.” Raga menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban Ucok.

            “Bagian mana yang bikin lw setuju?” Ilham bertanya dengan sewot.

            “Yaa mungkin ini cara pemerintah yang sedang menyiapkan calon pemimpin masa depan.”

            “Ahh muna lw. Inget dengan adanya full day, kita seperti menjadi budak di negeri sendiri.”

            “Negeri kita dijajah selama 350 tahun sama Belanda. Kalau kita umpamakan umur penduduk Indonesia 50 tahun. Sampai 7 turunan orang-orang terdahulu dijajah. Mulai dari dirinya ketika meninggal Indonesia masih dijajah. Lalu anaknya meninggal Indonesianya pun masih dijajah. Dan sampai keturunan dia yang ke tujuh. Indonesia masih juga dijajah.

            Ketiganya terlibat dalam debat yang cukup sengit. Masing-masing berusaha mempertahankan pendapat. Karena sama-sama merasa paling benar.

            “Ingat bro. Sudah cukup lama kita dijajah dengan mental kita sendiri. Lw semua yang terus-terusan kalah sama nafsu kalian, yang akhirnya membuat negeri kita hancur.”

            “Terserah lw mau ngomong apa gw ga perduli.” Kesal Raga menanggapi Ucok.

            “Bangun choy. Jangan terlena dengan mimpi semu kalian. Gw rindu sama prestasi-prestasi anak negeri. Bukanya hanya bisa dilakukan dengan kerja keras!. Terus apa salahnya dengan full day school? ” Ucok berbicara dengan lantang.

            Raga dan Ilham saling melempar pandang.

            “Waktu kita bakalan habis hanya untuk belajar.” Raga tergagap.

            “Paling di rumah lw cuma asik main game doang. Atau ngerjain kegiatan yang gak penting.” Laki-laki batak itu tersenyum kecut. Mata belonya mentap tajam pada Ilham dan Raga.

            “Ya itu si urusan kita.” Ucap Ilham sekenanya.

            “Catet omongan gw. Gw janji bakalan membuat negeri kita ini lebih baik lagi. Negeri kita itu harus jaya. Bung Karno pernah bilang : “Beri Aku 10 Pemuda, Maka Akan Kuguncang Dunia.” Ucok bersemangat. Ia berdiri dari duduknya.”

            Raga dan Ilham menengadahkan kepala mereka. Menatap Ucok yang terlihat seperti bukan dirinya. Ternyata tidak sampai di situ saja, Ucok melanjutkan ucapannya.

            “Kalau kalian memang gerah melihat tingkah para anggota dewan. Lw berdua harus punya tekat untuk menduduki kursi pemerintahan. Dari situ kita akan punya celah untuk merubah bangsa kita ini.”

            Ucok puas dengan ucapannya. Ia amat mencintai negerinya. Dan untuk merubah kekacauan ini membutuhkan mental baja. Seperti dahulu para pahlawan yang gigi mengusir para penjajah.

            Raut wajah Raga dan Ilham seakan setuju dengan apa yang sahabatnya ucapkan. Mungkin saat ini negeri kita sedang tertidur pulas. Dan butuh tangan para patriot untuk membangunkan dari mimpi panjangnya. Jayalah Negeriku. Jayalah Bangsaku.

Tangerang, 21 Agustus 2017

Indahnya Melukis Hari

Cinta Untuk Nathan


            Sedan silver terjebak kemacetan panjang. Pemiliknya berusaha merayap mencari celah dari kemacetan yang tak dapat ditoleril. Belum lagi panasnya matahari seperti sedang memainakan emosi penduduk bumi. Mereka yang tidak bisa bersabar sudah mencapai puncak kemaraham. Dengan ganas sahut menyahut membunyikan klakson membuat suasana siang menjadi semakin galau . Dua jam kemacetan baru teratasi, pengemudi menghentikan mobil pada sebuah gedung pencakar langit melaju memasuki baseman hotel bintang lima.

Seorang wanita menggunakan pakaian safari dan celana jeans panjang dilengkapi dengan sepatu kets bewarna coklat membuka pintu mobil diikuti satu orang pria yang berpakaian sama, dengan santai mereka berjalan memasuki  hotel.

            “Mba Pak Nathan sudah ada di tempat.”

            “Maaf dengan siapa saya bicara?”

            “Saya Bintang.”

“Kalau saya Adit. Kami dari pusat perlindungan hewan.”

            “Sudah buat janji dengan Pak Nathan?”

“Bilang saja kami dari pusat perlindungan hewan Taman Nasional Gunung Lauser. Pak Nathan sudah mengetahui kedatangan kami.”

“Oh ya Bu kebetulan Pak Nathan baru dua harinya yang lalu kembali ke tanah air. Mohon ditunggu saya hubungin Pak Nathannya dahulu.”

            Resepsionis hotel menyambar telephon yang berada di sampingnya, berbicara dengan seorang diseberang sana mengabarkan kedatangan Bintang dan Adit.

            “Ibu dan Bapak silahkan naik kelantai 20 Pak Nathan sudah menunggu”

            “Ok terima kasih ya mba.”

Bintang dan Adit berjalan memasuki lift. Tidak tanggung-tanggu mereka harus naik kelantai 20, namun tidak tampak rona keluhan yang terpancar dari keduanya.

            “Maaf mba kami ingin bertemu dengan Pak Nathan.”

Adit berbicara dengan seorang perempuan yang berada didepan ruangan CEO Luxury Hotel. Dengan tersenyum manis perempuan cantik itu langsung menghubungi bosnya dan mempersilahkan Bintang dan Adit memasuki ruangan. Akhirnya setelah kedatangan mereka untuk ketiga kalinya membuahkan hasil. Setelah menunggu cukup lama mereka baru  bisa bertemu dengan pak CEO.

“Naura tolong buatkan tiga cangkir teh” Sang bos meminta tolong kepada sekretarisnya.

Pemandangan yang mengejutka.  Tidak seperti bayangan Bintang dan Adit ternyata CEO Luxury Hotel masih sangat muda tampan pula. Jauh dari rambut professor, wajah menakutkan, dan keruta-kerutan bukti dari perjuangannya. Beruntung sekali hidupnya di usia mudanya saja ia sudah mampu mengepalai hotel bintang lima yang terkenal kemewahannya. Bintang menyadarkan dirinya agar tidak berlama-lama terkena sihir CEO muda tersebut.

Dua puluh menit berlalu sulit bagi Bintang dan Adit mencuci otak CEO bahkan mereka sampai bersi tengang.

Ailurops melanotis, Catopuma badia, Dendrolagus mayri, Dugong dugon, dan Haylobates agilis yang Bapak miliki tergolong hamir punah spesiesnya.”

“Saya tahu! Dan saya sudah memberikan perawatan istimewa bagi mereka. Tidak tanggung-tanggung dokter hewan terbaik di kota ini saya khususkan untuk merawat mereka.”

Nathan membela diri, perawakannya yang sombong di tambah dengan gayanya yang selangit membuat Bintang muak menghadapinya. Bintang dan Adit berusaha mengontrol emosi. Ujian kali ini memang tidak main-main karena  mereka langsung berhadapan dengan orang penting di negeri ini.

“Kami tahu pasti Bapak sudah melakukan hal terbaik untuk mereka, fasilitas selangit, makanan sehat, tempat yang menurut Bapak kondusif. Tetapi itu semua tidak dibutuhkan untuk keselamatan mereka”

Nathan melempar tatapan sinis menganggap tamunya mendikte hal yang tidak masuk akal. Bintang dan Adit mulai merasakan aura ruangan berubah menyeramkan.  Dengan pelan dan sedikit momohon Bintang memberanikan diri untuk mencairkan suasana.

“Tolong bantu kami untuk dapat melestarikan hewan-hewan yang terancam punah.”

“Apa untungnya bagi saya melakukan itu?”

“Bapak bisa ikut berperan dalam menjaga ekosistem bumi.” Bintang sudang mulai frustasi menghadapi tingkah Nathan yang belagu.

            Adit dengan tenang menjelaskan kemungkinan baik kepada Nathan, tetap saja hal tersebut tidak dapat melunakan fikiran Nathan. Nathan diam seribu bahasa membenarkan dirinya, sifat angkuh membuatnya menang hari ini.

***

8 tahun yang lalu

“Laper nih kekantin yuk.”

“Ahhh pikiran lw makan mulu.”

“Tau nih gedut loh.”
“Lah kan kita sedang dalam masa pertumbuhan wajar dong.”

“Masa pertumbuhan dari mana? Yang ada kita tuh bayi raksasa.

“Udah ayo kekantin gw juga laper, ga usah belaga diet. Kalau ketemu makanan juga seperti orang yang belum makan satu bulan.”

Timpal Roro teman satu geng Bintang tanpa basa-basi. Setiap bicara ia terkenal ceplas-ceplos. Bintang, Roro, Ganny dan Jasmin berjalan menyusuri koridor menuju kantin satu dua kali Bintang mengeluarkan jurus jahilnya menggoda ketiga temannya sambil tertawa puas. Dan akan berhenti saat Ganny Mrs. Fashionable berteriak mengeluarkan suara cemprengnya.

Suasana kantin siang itu sangat riuh dipadati anak-anak perempuan yang bergosip ria, sudah pasti tentang cowo. Cinta topik yang tak pernah lekang oleh waktu pokok bahasan yang tidak ada habisnya untuk remaja-remaja yang sedang puber siapun mereka pasti senang kalau sudah membicarakannya.

“Bintang gw nitip puterin lagu Sheila On Seven penjantan tangguh, salamnya buat Sella. Salam cinta dari Anto.”

Bintang, Roro, Ganny dan Jasmin kontan bertukar senyum, siapa yang tak kenal Anto semua warga SMA Pertiwi pasti mengenalnya. Ia dijuluki penjatan tangguh karena sifat gigihnya yang awet mengemis cinta Sella. Hal unik yang selalu Anto lakukan adalah menitipkan salam cinta dan lagu untuk Sella.

“Salut gw sama Anto coba kalian bayangkan satu tahun di cuekin sama Sella.”

“Males gw ngebayanginya, mendingan gw makan ni bakso.” Ledek Jasmin, Bintang memonyongkan bibirnya.

“Anto tuh Oon udah tau Sella ga suka, masih aja dikejar-kejar.” Timpal Roro yang gayanya tomboy abis sambil melahap ketoprak.

“Tapi Anto tuh keren jarang loh ada cowo setangguh Anto.” Bintang masih membanggakan Anto didepan sahabat-sahabatnya.

“Ngebayanginya aja udah merinding, satu tahun nitipin salam cinta. Gw dukung Sella ngacangin Anto.”

“Itu artinya cowok setia, dan satu lagi pasti Anto romantis gila.” Bintang senyum-senyum sendiri dan menyuruput coke pesanan Ganny.

“Loooh kenapa kalian pada sibuk ngomongin Anto dan Sella”. Bintang, Roro dan Ganny saling berpandangan dan salting. Hanya Jasmin yang dapat menghentikan mereka bertiga ketika sudah beradu mulut untuk hal yang tidak penting.

Tangerang, 21 Agustus 2017
Indahnya Melukis Hari 
KECE Day 5

Minggu, 20 Agustus 2017

Caisar oh Caisar


            Bel istirahat berbunyi nyaring tiga kali seperti teriakan klakson kereta api mengusir kendaraan yang menghalangi jalan. Istirahat waktu terindah yang dinanti-nanti semua siswa. Seketika para siswa-siswi berlari berhamburan keluar kelas, layanya segerombolan semut yang baru saja keluar secara masalah dari sarangnya. Ada yang berlari ke kantin, lapangan, perpustakaan dan mushola. Seperti biasa tempat paling asik disinggahi anak rohis adalah musholah. Rutinitas penting setelah menunaikan dua rokaat sholat dhuha tanpa komando mereka akan memadati perpustakaan.

            Siswa-siswi SMA Pertiwi biasa menyebut perpustakaan adalah base camp anak rohis. Akan ada pemandangan yang menyejukkan mata ketika melangkahkan kaki ke dalam perpustakaan. Muslimah berjilbab panjang akan memenuhi hampir semua sudut. Bagi mereka intensitas bertegur sapa itu sangat penting untuk merajut ukhuwah. Tidak hanya menghabiskan waktu dengan membaca tetapi juga berbagi informasi seputar berita Islam yang sedang ramai diperbincangkan.

            “Astagfirullah masa si?” Nuke bertanya dengan heboh. Kedua tangannya menutup bibir mungilnya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

            “Kamu sudah tabayyun mengenai informasi itu Ris?” Tanggapan Bella lebih santai ketimbang Nuke.

            “Tabayyun sama orangnya langsung? Hmmm belum. Ana hanya bisa memantau perkembangan dari komen-komennya ig indonesiabertauhidofficial.” Jawab Riska diplomatis.

            “Subhanallah Ukhti solihah jangan salah dalam berbicara. Nanti anti yang akan kena batunya loh.” Kini Bella menutup novel yang tadi dibaca. Ia memandang Riska yang duduk di samping kanan. Menurutnya diskusi kali ini lebih urgent ketimbang membaca.

            “Tapi benar juga si selama ini setiap ana buka ig berita beliau yang selalu ramai.” Nuke seakan mendukung pernyataan Riska.

            “Tuh kan benar. Bukan maksud ana mengada-ngada. Nuke juga tau berita yang lagi happening.” Kini Riska tak mau kalah seakan dia menemukan pendukung yang siap mendukung hujjahnya.

            Belakangan ini tanah air sedang dihebohkan dengan kembalinya Caisar dalam singgahsananya. Kembali menghibur masyarakat lewat goyangannya. Dua tahun yang lalu ia memutuskan untuk murtad dari dunia entertaimen. Selama itu pula tempatnya kosong sampai ia datang kembali untuk mengisinya. Tidak sampai di situ saja yang disayangkan Riska dan teman-teman adalah tindakan Caisar yang mentalaq Indadari wanita yang hampir dua tahun memakai niqab.

            “Kira-kira apa ya alasannya sampai kembali jahiliyya?”

            “Katanya masalah ekonomi. Dan bisnisnya itu sedang diuji sama Allah.”

            “Oooo seperti itu.” Nuke mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti tentang teka-teki ini.

            “Terus katanya isteri beliau sakit parah. Makanya untuk membayar biaya pengobatan membutuhkan uang yang banyak.” Lagi-lagi Riska merapihkan bentuk jilbabnya karena terlalu antusias saat berbicara.

            Bella kembali asik dengan kegiatannya seperti lima menit yang lalu. Ia pura-pura tidak tertarik dengan yang dibicarakan kedua sahabatnya. Tetapi terkadang satu dua kali ia melirik kepada keduanya lalu mencuri dengar.

            “Oh ya dia juga sudah melupakan sunah Nabi.”

            “Bagian apa yang dilupakan sama beliau.”

            “Coba anti perhatikan wajah Caisar, udah gak ada malaikat yang bergelantung di jenggotnya.” Ucap Riska sembari tertawa jahil.

            Nuke terbelalak mendengar jawaban Riska. Bella tersenyum kecil menanggapi ocehan sahabatnya.

            “Anti ada-ada aja. Memang malaikatnya bisa dilihat!” Nuke masih belum bisa menghentikan tawanya.

            Keheningan tercipta sesaat Riska dan Nuke sama-sama diam. Tetapi tidak pada kelomok akhwat yang duduk tak jauh dari ketiganya mereka masih terlihat sibuk. Entah sedang membahas apa.

            “Sudah nih ngomongin Caisarnya?” Bella menerobos kebisuan diantara mereka.

            Riska dan Nuke tersenyum menanggapi Bella

            “Ingat ghibah itu dosa loh ukhti-ukhti cantik. Memang kalian mau makan daging teman sendiri?” Sembari menepuk pundak Riska dan Nuke.

            Riska dan Nuke saling melempar pandang. Mereka sadar dari tadi apa yang mereka bicarakan kurang bermanfaat. Kalau sudah Bella yang berbicara pasti akan banyak dalil yang dikeluarkannya.

            “Sebenarnya apa yang mau dilakukan Caisar itu terserah. Sekalipun ia mau jungkir balik sampai tidak bisa balik lagi itu keputusan dia. Mungkin saat ini beliau sedang terlena dengan gemerlapnya dunia, biarkan beliau menikmatinya. Toh itu menjadi pilihan dia.”

            “Benar si.” Riska dan Nuke menjawab bersamaan.

            “Ada kisah menarik yang kemarin ana dapat. Mau tau?”

            “Mau!.”
           
            Bella membetulkan cara duduknya. Untuk lebih mudah berhadapan dengan Riska dan Nuke yang berada di sebelah kanan kirinya.
            “Ada seekor semut mencicipi madu dari pinggir tetesannya.  Ia berfikir kenapa tidak sekalian saja masuk dan menceburkan diri, agar bisa menikmati manisnya lagi dan lagi.  Maka masuklah sang semut tepat di tengah tetesan madu. Ternyata apa yang terjadi?”

            “Semutnya senang.” Sembari tersenyum Nuke menjawab pertanyaannya Bella.

            “Kesusahan dong, kan lengket. Semutnya pasti rempong tuh.”

            “Betul. Badan mungilnya tenggelam dalam madu. Kakinya lengket dan tentu saja tidak bisa bergerak. Malang nian nasibnya sang semut terus seperti itu sampai akhir hayatnya mati dalam kubangan setetes madu. Demikianlah analogi sederhana tentang dunia dan pencinta dunia.” Bella memandang Riskan dan Nuke secara bergantian

            “Ya Allah.” Sambil menarik nafas Nuke menampakkan wajah sedihnya

            “Naudzubillah.” Riska menggeleng-gelengkan kepalanya

            Tidak sampai di situ saja, Bella pun melanjutkan kisahnya.

            “Ada pepatah Arab berbunyi : “Tidaklah kenikmatan dunia berarti apa-apa, melainkan bagaikan setetes madu. Maka siapa yang hanya mencicipinya sedikit, ia akan selamat. Namun siapa yang menceburkan diri ke dalamnya, ia akan binasa. Gimana menurut kalian?”

            “Karena kita sesama muslim jadi jalan terbaik adalah mendoakan beliau.” Nuke menaikan jari telunjuknya.

            “Intinya jalan dakwah itu berliku. Bohong besar kalau kita hidup tanpa ujian. Bahkan ujian terberat di kolong langit ini sudah terlebih dahulu di lewati para Nabi dan Rasul.” Riska  menaik turunkan kedua alisnya. Jawaban terbaik yang baru saja keluar dari mulutnya.

            “Yup benar. Kalau ana boleh menyimpulkan dari kasus Caisar. Terjalnya kehidupan ia saat ini, banyaknya ujian yang Allah berikan padanya. Akan mudah sekali di lewatan jika sedikit lagi ia mau bersabar. Ana ulang lagi sabar sedikit lagi, maka beliau akan mendapati takdir indah dari akhir skenario ujian beliau.” Bella tersenyum manis pada kedua sahabatnya.

            Mereka bertiga sama-sama tersenyum.

            “Satu lagi gaes. Kita yang menentukan selama apa hidayah menjadi teman sejati kita. Karena hidayah itu bukan ditunggu tapi buruh” Sembari mengedipkan kedua matanya Bella berdiri dari tempat duduknya mengajak Riskan dan Nuke untuk kembali ke kelas masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi.

            Setelah medengar tanggapan Bella, Riska dan Nuke menjadi tahu apa yang harus mereka lakukan. Dan ketiganya pun setuju untuk tak lagi membahas tentang Caisar. Karena  masih banyak kisah yang lebih bermanfaat yang bisa  mereka bahas. Contohnya bendera NKRI yang berubah warna menjadi putih merah. Kalau menurut Bella anak rohis itu haram hukumnya membicarakan hal yang tak berguna.

Tangerang, 20 Agustus 2017
Indahnya Melukis Hari 
KECE Day 4 
           


            

Sabtu, 19 Agustus 2017

Jangan Memilih Aku



“Memang apa susahnya si tinggal jawab ya terus menikah? kan sudah kelihatan kalau dia cowo baik-baik, pekerjaannya jelas, tampang ok, body bagus kurang apa coba!.” Diseruputnya es capucino yang baru diantar pelayan satu menit yang lalu.

“Benar dari segi fisik dan penampilan memang dia cowo yang tidak ada cacatnya.” Sambil melahap mie ayam makanan favorit anak muda zaman sekarang.

“Nah itu sadar. Kenapa masih mikir. Zaman sekarang ini banyak anak muda yang gak jelas pekerjaannya, perlu dicatat jarang diusia yang masih cukup muda tapi karir sudah mumpuni. Kadang gw masih suka bingung sama jalan fikiran lw Kar. Kalau aja gw belom menikah sama Adit udah gw sikat si Rommy.”

Karina tersenyum menanggapi tingkah kesal sahabatnya. Dini sahabat yang tak pernah bisa diam walau hanya satu menit, ada saja yang dikomentarinya entah mas-mas yang sedang lewat, make up pelayan yang terlalu menor, pesanan yang lama datang dan masih banyak lagi topik hangat yang membuat bibirnya gatal untuk berucap. Karena bakatnya itu Dini menjadi salah satu penyiar radio terkemuka di Jawa Timur. Ketika masih SMA Dini salah satu penyiar yang ditunggu-tungu suaranya, bahkan ia memiliki julukan ratunya para cempreng. Hal tersebut yang selalu membuat Karina kangen dengan sahabatnya walaupun Dini orang yang berisik dan ramai Karina tidak pernah malu ketika sedang jalan bersamanya.

Siang ini yang menjadi topik panas Dini adalah Rommy cowo yang dahulu sama-sama sekolah dengan mereka sedang gencar mendekati Karina, gadis kaku yang sulit mengekspresikan dirinya. Dari semasa sekolah Rommy sudah terang-terangan menampakkan rasa sukanya pada Karina, kadang ia juga sering mengajak Karina untuk pulang bersama menggunakan sepedah motornya. Namun tak sedikitpun Karina menanggapi rasa cinta Rommy. Semasa sekolah sampai saat ini bisa dihitung jari berapa banyak laki-laki yang menjadi temannya. Semasa Karina kecil ia sudah ditanamkan agar menjaga jarak dengan para lelaki. Orang tuanya akan berubah menjadi galak ketika mendapati Karina jalan bersama makhluk yang bernama laki-laki. Ibunya selalu berpesan jangan pernah salah untuk menaruh suka pada lelaki yang kurang baik dalam pergaulan, karena sekali terjerat dengan gombalan mereka maka akan sulit untuk melepaskan jeratan tersebut.
“Semua anak diangkatan kita sudah menikah. Bahkan banyak yang sudah memiliki anak. contohnya Ika teman sekelas kita itu sudah memiliki 4 orang anak. memang kamu tidak iri sama dia?” Dini melahap suapan terakhir nasi ramesnya.

“Mas minta air mineralnya satu botol.” Karina memotong pembicaraan mereka.

“Mulai deh kalau gw sudah menjurus kemasalah anak pura-pura gak dengar.”

Kini gilian Karina yang menatap tajam perempuan yang ada di depannya. Dini asik mengaduk-aduk es capucino mencari kesibukan menghindar dari tatapan sahabatnya, ia sadar Karina mulai bosan dengan topik siang ini. Keduanya sama-sama diam, suara pengunjung kantin sehat tempat kerja mereka menjadi saksi ketegangan keduanya. Kenapa harus menyinggung tentang anak apa salahnya dengan jalan hidup yang dipilihnya toh selama ini orang tuanya tak pernah memaksanya untuk segera menikah.

“Gw memang bodoh kalau sampai melewatkan kesempatan emas ini. Laki-laki impian para wanita datang secara cuma-cuma menawarkan kehidupan rumah tangga yang bergelimang harta.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti sedang mengasihani diri sendiri menarik nafas lalu menghembuskannya dengan berat.

Dini merubah posisi duduknya. Ia sadar kini saatnya Karina akan berbicara dengan serius.

“Apalagi dizaman serba sulit ini. Gw gak usah harus capek berangkat sebelum matahari terbit demi mengejar kereta dan berdesakan di dalamnya.” Sambil meneguk air mineral.

“Terus alasannya apa?” “Itu lw sudah hafal betul.” Dini tambah penasaran dengan Karina.

Ternyata selama ini Dini dan Rommy sering bertukar informasi tentang Karina. Rommy masih menyimpan suka, walaupun sudah berlalu selama lima tahun. Tetapi api cinta untuk Karina tetap menyalah dihatinya. Bagi Rommy cara mudah untuk mengetahui perempuan berjilbab yang disukainya itu dengan menggali banyak informasi dari sahabatnya.
Karina  memulai percakapannya kembali. Wanita berkaca mata di hadapannya masih setia menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut gadis berkulit sawo matang itu.

“Lw mau tahu satu hal yang Rommy gak punya? Benteng terkuat bagi seorang laki-laki, yaitu keimanan.”

Dini mulai bingung mendengar alasan Karina.

“Zaman sekarang kita gak butuh laki-laki soleh tapi laki-laki berduit. Emang lw mau menikah sama cowo soleh tapi kantongnya tipis?” Tanyanya meremehkan.

“Kenapa gak. Gw yakin dengan sifat solehnya itu dia mampu menjaga kehormatan isterinya. Laki-laki soleh itu lebih mahal dari langit, bumi dan seisinya.” Karina mulai mengebu-gebu ia semangat untuk menghentikan sikap jahil Dini.

Dini tak mampu berkata-kata lagi, ia menarik nafas pasrah. Ia kalah telak dengan Karina.

“Dari mana lw tahu tentang keimanan Rommy? Selama ini kan lw yang selalu menghindar.” Kini giliran Dini yang sewot.

“Kalau memang sayang dan mau sama gw. Ngapain susah payah mencari informasi dari lw. Laki-laki baik dan gentel pasti langsung datang ke rumah calon mertua.” Karina tersenyum seperti sedang meremehkan Rommy.

“Ya mungkin bel.”

Belum sempat Dini melanjutkan kalimatnya Karina terlebih dahulu memotong ucapannya.

“Ingat Din ketika kita memutuskan untuk menikah, pertama yang harus menjadi bahan pertimbangan kita adalah keimananya. Kalau ia memiliki keimanan berarti kita bisa memberi nilai baginya 1, jika ia tampan kita menambahkan angka 0. Jadi 10. Kalau ia juga punya harta akan bertambah 0 lagi. Jadi 100. Kalau dia cerdas tambahkan 0 lagi. Menjadi 1000 tetapi jika ia tidak memiliki yang pertama maka ia hanya bernilai 000. Sama saja tidak bernilai sama sekali.”

“Rommy memang lelaki baik-baik. Yang memiliki segalanya tetapi gw gak mencari itu. Dari dahulu gw gak pernah mau berurusan dengan cinta monyet karena gw punya standar harus bagaimana cowo yang akan menjadi pendamping hidup gw.”

Karina berharap dengan jawabannya Dini akan mengerti tentang dirinya. Selama ini Karina selalu menghindar membicarakan lawan jenis. Baginya masih banyak hal penting dan menarik untuk didiskusikan. Setelah mendengar panjang lebar jawaban Karina sepertinya Dini semakin mengerti tentang sahabatnya.

“Ok sekarang gw tahu apa yang selama ini menjadi bahan pertimbangan lw. Sebagai sahabat tugas gw hanya mendukung apa yang menjadi keputusan lw.” Dini tersenyum menanggapi keputusan Karina.

Keduanya sama-sama tersenyum.

“Yuk balik. Jam istirahat sudah mau habis.” Ajak Karina sambil berdiri.

“Bayar dulu bu baru pergi.”

Apa salahnya memutuskan menjadi wanita kuper dalam percintaan. Nabi dan Rasul tak pernah sekalipun mengajarkan pacaran. Jika kita memang suka dengan lawan jenis mengapa tidak lansung merayu sang pemiliki cinta untuk ditakdirnya bersama dengan laki-laki yang kita cintai. Kodrat wanita memang menunggu lamaran yang datang tetapi ia berhak memilih siapa yang pantas memberikan pelukan cinta baginya. Alpa diri dari malam minggu bukan berarti kosongnya hati. Tuhan pasti sudah menyiapkan laki-laki yang selalu berdoa setiap waktu untuk kita. Karena laki-laki yang baik hanya untu wanita yang baik pula. Point utama dalam hidup ini adalah menjadi baik untuk medapatkan yang terbaik.

Tangerang, 19 Agustus 2017
Indahnya Melukis Hari
Kece Day 3


 

Melukis Hari dengan Kata Template by Ipietoon Cute Blog Design