Minggu, 09 Juli 2017

#30DaysWritingChallenge #30DWC #Day4

Tips Mengajarkan Anak Agar Bisa Cepat Membaca


            Setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya tubuh menjadi anak yang cerdas secara akademik, karna saat ini patokan cerdas dan tidaknya di negara kita masih seputar anak yang sedini mungkin dapat membaca dan berhitung maka mereka mendapat julukan anak ajaib (kaya Joshua zaman dulu dong). Ironisnya mereka yang belum bisa membaca saat lulus TK dapat di pastikan sulit untuk masuk SD unggulan, ya ampun sengsara banget si anak di bangsa ini dari kecil aja beban hidup kita udah berat.

            Sebenarnya sangat simpel membuat anak bisa membaca bahkan dalam jangka waktu tiga bulan saja kita bisa membuat mereka fasih membaca koran atau buku cerita. Tapi akan banyak timbul masalah atas pencapaiannya mereka, kalau kita ibaratkan tumbuh kembang anak seperti sebuah segi tiga anak-anak di Indonesia berkembang dari bagian besar menuju kekerucutnya sedangkan anak-anak di luar negeri mereka akan berkembang dari bagian kerucutnya lalu ke bagian besarnya. Apakah itu sebuah kemajuan? Jelas ini sebuah kemunduran, dari kecil anak yang di paksa untuk pandai dalam akademiknya suatu saat nanti mereka akan tumbuh menjadi anak yang benci dengan pelajaran, nah saat ini fenomena tersebut menjadi kebodohan masal yang sulit di tanggulangi. Dari kecil beban yang di emban sudah terlalu besar padahal anak-anak belum butuh. Nah dampaknya mereka akan acuh dengan beban yang harusnya mereka emban ketika dewasa.

            Dari hal yang saya pelajari selama berkecimpung dalam dunia pendidikan setiap manusia itu memiliki dua jenis perkembangan. Pertama perkembangan kronologis dan biologis perkembangan di sini saya sebut usia ya, usia kronologis usia ulang tahun kita sedangkan biologis tahapan perkembangan kita sebagai manusia ia akan bertambah sesuai dengan tingkat tantangan hidup yang berhasil kita lalui. Setiap anak belum dapat mengambil keputusan, mereka akan cenderung mengerjakan apa yang disuruh, saat mereka di suruh belajar membaca, ikut les ini itu dan bla bla bla pasti akan mereka lakukan karna pola dan atmosfer yang di bentuk oleh orang tua mereka menuntut mereka harus seperti apa yang orang tua mau.

            Usia biologis anak tidak berkembang dengan baik karna sedari kecil orang tua tidak melatih tentang hal itu, coba kalau kita perhatikan anak sekolah zaman sekarang kronologis mereka 15 tahun tapi biologisnya seperti anak 5 tahun. Anak SMA yang gemar sekali tauran menggunakan celurit untuk melukai seseorang efek dari celurit dapat membuat musuh kehilangan nyawa apakah mereka memikirkan itu. Dalam perkembangan anak ada yang namanya sensorimotor satu, ada di usia berapa si anak yang memiliki sensorimotor satu? Harusnya hanya boleh ada di anak yang usianya dua tahun, anak usia dua tahun masih gemar sekali untuk melempar benda-benda di sekelilingnya karna mereka belum tahun fungsi dan kegunaan dari benda tersebut. Gelas kaca yang mereka lempar akan pecah dan berbahaya bagi dirinya dan orang lain apakah anak tersebut tahu? Tentu mereka tidak tahu. Jadi anak SMA yang masih gemar tauran sebenarnya biologis mereka seperti anak usia dua tahun.

            Ada lagi kasus orang dewasa yang suka mencuri atau menginginkan kepunyaan orang lain. Sebenarnya kasus mengambil barang yang bukan miliknya akan muncul pada anak usia tiga tahun, kenapa tiga tahun karna mereka masih belajar tentang konsep kepemilikan. Mereka masih bingung antara barang miliknya, orang lain dan umum. Nah bagi orang dewasa yang suka ngambil barang orang lain karna di usianya yang ke tiga tahun tidak tuntas tentang konsep kepemilikan.

            Untuk orang dewasa yang gemar berbohong dan menganggap kejujuran tidak penting bagi mereka sebenarnya akan kita temui pada anak yang usianya lima menjelang enam tahun. Pada saat usia lima menjelang enam di sebut usia special karna transisi dari TK menuju SD mereka lebih gemar menyalahkan dan mengkambing hitamkan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat, mereka memiliki ego lebih besar dari usia sesudahnya. Jadi orang dewasa yang suka sekali berbicara dusta seperti anak umur lima tahun.
            Kenapa fenomena di atas menjadi kebodohan masal bagi orang dewasa di negara kita karna sedari kecil orang tua kita sibuk dengan nilai akademik saja, tetapi mengabaikan pembentukan karakter. Coba kita perhatikan budaya mengantri di negara kita bisa di katakan jelek sekali, tidak sabar kalau harus mengantri. Budaya membaca bagaimana? Indonesia masuk kategori negara termalas, buku itu sudah seperti monster yang akan mengambil nyawa si pembaca, sedangkan untuk urusan menonton menjadi makanan sehari-hari yang tidak boleh di lewatkan nah mulai deh para pengusaha yang hanya menguntungkan profit tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Akhirnya pembodohan menjamur di negeri ini. Padahal Allah memerintahkan kita dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 untuk membaca.
            Sebenarnya usia berapa si anak sudah masuk kategori siap baca? Jawabannya adalah anak usia delapan tahun atau anak kelas tiga SD, delapan tahun pun bukan hanya pelajaran membaca saja yang diberikan, tetapi pengenalan membaca secara dasar hanya secara dasar bukan di gembel terus menerus. Anak usai delapan tahun masih masuk kategori anak usia dini yang kegiatan mereka di sekolah hanya bermain sambil belajar dan pembentukan karakter.

            Ok selanjutnya di bawah ini tips untuk mengajarkan anak supaya bisa cepat membaca :
1.    Membacakan buku (sebenarnya budaya dongeng sebelum tidur penting banget untuk di lakukan. Ibaratnya orang tua dan anak memiliki quality time dengan membaca buku bersama)
2.    Sesering mengajak anak mampir ke toko buku
3.    Berikan kesempatan kepada anak untuk membeli buku yang mereka pilih sendiri
4.    Buat anak mencintai buku  
5.     Ciptakan budaya cinta membaca pada rumah kita
6.    Orang tua harus lebih sering memperlihatkan kepada anak kalau ayah dan mama mereka juga suka membaca
7.    Berikan label nama pada setiap benda yang ada di rumah (tempat garam, gula, kamar, toilet dll)
8.    Membuat perpustakaan kecil di rumah


Warning orang tua jangan terburu-buru memaksakan proses ini, budaya cinta buku bisa di bentuk saat anak sedini mungkin. Ortu wajib memfasilitasi banyaknya buku di rumah, sudah banyak toko buku yang menjual buku untuk bayi dan balita, sedini mungkin sudah boleh di kenalkan tentang buku tersebut. Dan pastikan ortu sering membacakan buku bayi dan balita kepada anak setelah itu mereka boleh di berikan kesempatan untuk memainkan buku tersebut lebih sering.
Saya yakin kalau semua proses pengenal membaca di atas di lakukan dengan sabar dan penuh perhatian orang tua membaca untuk anak akan menjadi habits dan hobby sampai mereka tua nanti. Kalau kata mama saya tidak usah buru-buru Belanda masih jauh. Gimana kasusnya kalau anak kita tidaka akan di terima SD kalau mereka belum bisa membaca? Ya tinggal cari sekolah lain yang lebih lebih mementingkan pembentukan karakter. Karna anak kita bukan orang dewasa kecil ia tetap anak kecil yang butuh bermain.

Dan ternyata membaca ada tahapanya loh nah sekalian saya share ya :
1.        Tahap fantasi (magical stage)
2.        Tahapan pembentukan konsep diri (self concept stage)
3.        Tahap membaca gambar (bridging reading stage)
4.        Tahap pengenalan bacaan (take of reader stage)
5.        Tahap membaca lancar (independen reader stage)

Semoga bermanfaat bagi para pembaca. Kalau ga ada yang baca tulisan gw di atas tidak apa-apa kok. Tapi kalau ilmu tersebut bukan datang dari saya semoga kalian akan mendapatkannya dari orang lain. Oh ya untuk yang sudah membaca tulisan ini harap tinggalkan jejak ya.


Tangerang, 9 Juli 2017
Indahnya Melukis Hari


Sabtu, 08 Juli 2017

#30DaysWritingChallenge #30DWC #Day3



Review Movie
A Melody to Remember

“Kau tahu apa yang lebih menakutkan dari pada perang dan kematian?
Yaitu di tinggalkan”

            Pada tanggal 15 Agustus 1945 perang dunia ke 2 Korea merdeka dari Jepang. Setelah itu Korea setuju dengan US dan Rusia dalam pengaturan parallel utara. Pemerintah memecah Korea menjadi utara dan selatan setelah semakin banyak pendukung antara demokrat dan komunis. Pada tanggal 25 Juni 1950 perang antar Korea utara dan selatan di mulai. Film di buka dengan kekacauan saat perang, tembakan dan meriam membelah kesunyian. Jeritan penderitaan menjadi lonceng kesedihan asap putih menjadi saksi tubuh-tubuh tak berpenghuni bergelipangan di medan perang. Sisa dari peperangan hanya kesedihan yang tak kunjung mereda.

            Kakak beradik Oh Dong Ku (Jung Joon Won) dan Oh Sun (Lee Re) menjadi salah satu jutaan anak yang harus menjadi yatim piatu setelah orang tua mereka mati di tuduh sebagai komunis. Setelah amukan dari beberapa masa yang merenggut nyawa ayah Dong Ku dan Oh Sun mereka harus terus bertahan hidup di bawah kekuasaan Galgori (Hook) manta militer yang menjadi kaki tangan anak konglong merat yang suka datang ke Busan. Galgori mempunyai tempat kumuh semacam penampungan karna kondisi di Korea sedang perang banyak anak-anak yang harus menjadi yatim piatu dan berjungan sendiri demi mencari perlindungan makanan mereka siap untuk menjadi kaki tangan Galgori yang suka mencuri perlengkapan militer.

            Letnan Hang Sang Jul (Siwan) pemeran utama pria jago main musik dan sempat kuliah di luar negri dirinya harus rela menjadi tentara dan berperang, ia memiliki sisi menyedihkan dalam hidupnya adiknya meninggal di depan mata kepalanya sendiri saat ia dan beberapa orang di masukkan kedalam sumur berisi air. Padalah ia selalu berjanji akan menjaga adiknya itu tetapi apa boleh buat adiknya merenggang nyawa di depannya. Mulai dari situ ia menjadi seseorang yang pelit senyum, serius dan selalu didatangkan mimpi kejadian yang sampai membuat adiknya meninggal. Ketika melihat Oh Dong Ku dan Oh Sun semperti mengingatkan ia saat bersama adiknya.

            Park Joo Mi (Ko Ah Sung) kaum elit yang mendedikasikan dirinya sebagai direktur untuk mengasuh anak-anak korban peran. Ia menjadi pelindung bagi anak-anak di dalam panti asuhan yang berada di markas para tentra. Selain canti ia juga pintar dan memiliki banyak kasih sayang untuk anak-anak panti, semua anak sangat sayang padanya. Awalnya yang mengurus panti hanya ada dua orang saja, tetapi karna rekomendasi dari Sersan Cho Letnan Hang Sang Jul ikut bergabung sebagai kepala administrasi dan guide karna menurut Sersan Cho, Sang Jul suka dengan anak-anak.

            Anak-anak menjalankan hari di panti dengan rasa gembira dan aman, mereka bisa bermain dan memilki tempat tinggal yang layak. Awalnya Sang Jul merasa bosan karna tidak ada pekerjaan yang dapat di kerjakan, tetapi karna kejadian yang cukup mengerikan saat dirinya dan Sersan Cho sedang berkunjung ke pasar ada beberapa anak yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Ada satu anak di pasar yang sedang mengetuk-ngetuk sebuah bom ia yakin kalau sampai dirinya bisa membuka bom tersebut isinya bisa ia jual dan uangnya akan ia belikan 100 permen. Karna kebodohannya bom yang masih aktif itu meledak dan membuat dirinya merenggang nyawa. Bermula dari keprihatinannya itu ia berniat untuk membentuk sebuah kelompok orkestra, dengan meminta izin kepada Colonel Park (Park Soo Yong) tetapi jawaban yang ia dapat tidak sesuai dengan harapannya Sang Jul berkata dengan adanya orkestra tersebut dapat menyembuhkan penderitaan dan rasa sedih anak-anak yatim selai itu dapat melindungi anak-anak terlantar yang ada di jalanan keutungannya jika di latih dengan benar mereka bisa tampil untuk musikal milite talenta yang mereka miliki akan menjadi impian yang  baik. Tapi Colonel Park tidak memikirkan tentang itu yang ia tau anak-anak harus segera tumbuh besar agar mereka bisa ikut berperang. Tetapi berkat omongan dari Galgol yang saat itu sedang bersama dengannya di ruang Colonel Park akhirnya ia menyetujuinya. Sang Jul pun menginginkan anak-anak yang bersama dengan Galgol untuk ikut bergabung dengan orkestra tersebut.


            Orkestra Sol Lin pun di bentuk setiap harinya mereka berlatih di bawah bimbingan Sang Jul dan Joo Mi anak-anak gembira dengan pekerjaan baru mereka, tetapi ada satu anak yang tidak sama sekali mengeluarkan suaranya padahal anak tersebut memiliki suara yang indah anak tersebut adalah Oh Sun ia tidak mau bernyanyi karna pada saat ia bernyanyi ayahnya meninggal, dari sana ia selalu takut untuk bernyanyi ia takut kakaknya akan meninggal juga kalau ia bernyanyi. Tetapi di sana tidak ada yang memaksanya untuk bernyanyi kalau ia tidak mau.

            Colonel Park menginginkan orkestra Sol Lin untuk tampil di depan para tentra US, tetapi Sang Jul masih belum PD dengan kemampuan anak-anak ia meminta waktu sedikit lagi untuk melatihnya, Galgonl mau mempermalukan Sang Jul di depan tentara US ia mempengaruhi Colonel Park mendesak Sang Jul untuk pertunjukkan mereka hanya anak-anak tidak harus tampil secara sempurna. Mereka pun tampil perdana di depan tentara Korsel dan US dengan baik dan sempurna Galgol pun harus malu karna kalah.
            Oh Dong Ku dan beberapa temannya tidak bisa hidup dengan tenang walaupun mereka sudah berada di dalam panti, Galgol selalu memaksa anak-anak untuk bekerja. Terutama Dong Ku yang diancam kalau ia tidak mau menuruti apa yang Galgol pinta Oh Sun akan mati ditangannya setiap malam ia mencuri minyak di pangkalan militer. Kerja paksa ketahuan Sang Jul ia marah dan tidak rela anak-anak harus dieksploitasi ia pun memukuli Galgol tanpa ampun, pada saat baku hantam hampir saja Galgol meninggal tenggelam di sungai ia tidak bisa berenang Sang Jul yang awalnya tidak berniat membantunya akhirnya menyelamatkan Galgol. Berawal dari penyelamatan tersebut Galgol seperti hidup kembali ia bertaubat dan tidak lagi mempekerjakan anak di bawah umur demi kepentingan dirinya.
            Orkestra Sol Lin selalu di rindungan para tentra untuk mampir pada barak mereka. Banyak sekali yang mengundang mereka, tetapi Colonel Park seperti ingin membunuh anak-anak orkestra secara masal ia memerintahkan anak-anak untuk tampil di pada barak yang berada di zona perang tanpa pikir panjang Sang Jul menolaknya mentah-mentah. Ia pun mengumumkan kepada anak-anak kalau mereka tidak akan tampil lagi dan orkestra Sol Lin akan di bubarkan ternyata perkataannya itu membuat semua anak bersedih dan mereka ingin terus bernyanyi. Keputusan pun di ambil orkestra Sol Lin akan terus tampil walaupun mereka harus berjuangan melewati musuh.
            Mulai lah hari-hari bagi orkestra Sol Lin menghibur para tentra mereka terus bernyanyi berkeliling dari satu barak ke barak yang lain. Saat sedang istirahat dari perjalanan panjang mereka di salah satu hutan Oh Sun ingin BAK dan Dong Ku mengajak adiknya untuk masuk ke dalam hutan, tenyata tidak hanya mereka berdua saja yang ada di dalam hutan Chun Sik ingin BAB niatnya Oh Sun dan Dong Ku ingin kembali bertiga dengan Chun Sik tetapi Chun Sik tersesat dan lupa jalan pulang. Teriak-teriakan deh mereka bertiga tanpa sadar ada penghuni lain di hutan yaitu tentara Korsel. Untungnya tenta Korut langsung datang menolong mereka, tetapi karna letusan senapan yang tidak henti-henti ada peluru nyasar yang mengenai Dong Ku. Hari itu juga menjadi hari yang menyedihkan Dong Ku tidak bisa bertahan namun sebelumnya peluru yang bersarang di dadanya sudah sempat di ambil tetap saja Dong Ku tidak bisa bertahan. Sebelum Dong Ku meninggal ia menginginkan Oh Sun bernyanyi untuk dirinya, mulanya ia tidak mau bernyanyi karna takut kakaknya akan meninggal, tetapi di saat matahari mulai menghapus gelap Oh Sun mengabulkan keinginan terakhir kakaknya itu dan nyanyian Oh Sun menjadi pengantar tidur Dong Ku selamanya.
            Settingan sudah berganti menjadi tahun 1953 seorang gadis sedang asik memainkan piano jari jemarinya yang kecil itu menari-menari di atas tuts meneka menciptakan harmoni yang indah untuk di dengar. Ternyata Oh Sun yang sedang memainkan piano, hari itu pun mereka mendapat kabar baik bahwa perang sudah berakhir. Tidak akan ada lagi nyawa yang terbunuh, suara senapan dan bom, kepulan asap putih. Kini saatnya mereka menjalankan hidup dengan damai. Orkestra Sul Lin tetap ada di suatu malam yang sangat damai mereka bernyanyi untuk menghibur semua penduduk. Sekarang Oh Sun sudah berani untuk bernyanyi bahkan nyanyian yang di nyanyikannya untuk kakaknya menjadi penampilan pembuka.
Sedikit lirik dari lagu yang di nyanyikan Oh Sun
Matahari datang menghapus gelap
Tak ada yang datang mengunjungi kita
Hanya cahaya rembulan yang bersama kita
Karna itu hanya ada kita

Sedih meresapi liriknya suara hati anak-anak yatim piatu yang di tinggal mati orang tua mereka. Oh ya ost dari film ini tuh enak-enak banget, beberapa lagi di nyanyikan bersama-sama jadi gw sebagi pendengar ikutan tersihir sama semangat mereka.
Dari film ini kita akan berlajar tentang persaudaraan, kasih sayang, semangat hidup, perjuangan, harapan, kegembiraan dan rasa kehilangan.





Tangerang, 8 Juli 2017

Indahnya Melukis Hari 

Jumat, 07 Juli 2017

#30DaysWritingChallenge #30DWC #Day2


Review Novel
Bidadari Bermata Bening

Bismillah di challenge 30 DWC yang kedua ini gw pengen membahasa tentang novel yang selalu bikin gw berdetak, bahkan setelah selesai membacanya gw seperti seseorang orang yang akan meledak kegirangan. Dan ga sabar untuk berbagi informasi sama siapa aja orang yang gw temui. Dari semua novel yang di tulisnya selalu bisa menyihir gw untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Pantaslah beliau di nobatkan sebagai novelis no.1 di Indonesia. Kuy lah langsung cusss.

ISBN               : 978-602-0822-64-8

Issue                : Jakarta, 2017

Total Pages      : 341 halaman

Dimension       : 13.5×20,5

Cover              : Softcover

Color               : Black-White

Weight            : 300 gram

Publishing       : REPUBLIKA PENERBIT

            Ayna gadis cantik berkebangsaan Indonesia keturunan Palestina anak sebatang kara  yang di tinggal  mati ayah dan ibunya. Ayahnya yang berkebangsaan Palestina meninggal dalam keadaan syahid ketika sedang menuntut ilmu di Stockholm Swedia sedangkan ibunya meninggal di Indonesia saat Ayna sedang menikmati masa awal indahnya menuntut ilmu di pesantren. Semenjak kematian ibunya Ayna seperti anak yang tidak memiliki keluaga karna paman satu-satunya yang tersisa mengganggap Ayna bukan siapa-siapa bagi diri dan keluarganya.
            Hari-harinya ia lewatkan dalam naungan dunia pesantren baginya pesantren adalah rumah satu-satunya yang mau menampung dirinya. Selama di pesantren Ayna memiliki tanggung jawab yang berbeda dari teman-temannya karna dengan statusnya yang sudah yatim piatu pasti tidak akan ada yang mau menanggung biaya pendidikannya. Akhirnya dengan menjadi khadimah di pesantren akan membebaskannya dari biaya pendidikan. Tidak hanya itu penderitaan yang Ayna dapatkan karna statusnya sebagai anak mantan TKW membuatnya selalu di curigai banyak mata sebagai anak haram dengan kata lain mantan TKW yang kembali ke negaranya karna di hamili oleh majikannya. Saat kembali ke Indonesia ibu Ayna sedang mengandung janin yang baru berusia tiga bulan pantaslah ia di curigai memiliki anak hasil serong.
            Pada saat hari kelulusan Ayna mendapatkan nilai UN IPS tertinggi di jawa tengah, berkat prestasi yang di raihnya membuat dirinya banyak di kenal orang, salah satunya  penceramah terkenal yang pernah beberapa kali muncul di TV Kyai Yusuf Badrudduja adik dari Nyai Nur Fauziyah isteri pemiliki pesantren tempat Ayna menuntut ilmu. Ayna mampu menarik perhatian Kyai Yusuf Badrudduja duda dua anak yang berniat mensuntingnya, dengan penikahan ini akan mewujudkan impiannya untuk terus mendalami ilmu yang Allah ciptakan. Tetapi keputusan menikah atau tidaknya tidak hanya Ayna yang memutuskan karna mandat dari ibunya sebelum meninggal mengamanahkan Ayna untuk menganggap paman dan bibinya sebagai pengganti orang tuanya.
            Paman dan bibi tidak setuju Ayna menikah dengan duda beranak dua yang sudah berusia kepala tiga mereka menolak mentah-mentah lamaran tersebut. Usut punya usut ternyata pamannya yang tamak itu menginginkan Ayna menikah dengan salah satu anak konglongmerat yang sedang mencari isteri, sebenarnya Ayna hanya tameng dari seorang anak konglong merat yang haus akan harta, dengan menikahi Ayna Yoyok anak konglongmerat tersebut dapat memiliki citra yang baik saat pencalonan wakil rakyat. Namun sebelumnya Gus Afif anak ketiga dari pemilik pesantren tempat Ayna belajar datang meminangnya. Seperti mendapatkan semua harta yang ada di bumi ketika Gus Afif berniat meminangnya senang bukan main selama ini laki-laki yang diidamkannya juga memiliki perasaan yang sama dengannya, tetapi dengan halus Ayna menolaknya ada satu syarat yang harus di lakukan oleh Gus Afif izin bu Nyai seperti titah dari seorang raja baginya. Kalau mau pernikahan ini terjadi ia menginginkan bu Nyai sendiri yang meminta untuk menikah dengan anaknya. Hari, minggu dan bulan Ayna menunggu kedatangan Gus Afif bersama keluarga namun seperti punguk merindukan bulan tidak ada tanda-tanda kedatangan Gus Afif bersama keluarganya dengan terpaksa Ayna menerima lamaran Yoyok.
            Ayna tau menikah dengan Yoyok bagaikan menjerumuskan dirinya ke dalam api neraka, karna tak ada sepeserpun harta yang di hasilkan keluarga Yoyok dari jalan yang di ridhoi Allah. Pernikahan itu berlangsung dengan meriah Yoyok berani merima syarat harus lancar membaca Al-Qur’an, menghafal juz amma dan surah Yasin sebelum syarat itu terpenuhi maka Ayna tidak mau disentuh oleh suaminya itu.
            Bagai di sambar petir di siang bolong, tersayat-sayat hati Gus Afif ketika mengetahui bidadari yang selama ini mencuri hatinya sudah sah di persunting pria  lain. Sejak saat itu kesehatan Gu Afif semakin menurun, baginya di tinggal menikah oleh Ayna membuat semua orang di dunia memusuhi dirinya. Naas kata yang paling tepat untuk Gus Afif bumi sudah seluruhnya mejadi hitam hanya warna hitam yang dapat di lihatnya karna dengan hadirnya Ayna dalam hidupnya menjadikan bumi memiliki warna terindah di matanya. Malang kondisi pemuda tersebut walaupun sudah keluar masuk rumah sakit sudah banyak obat yang di minumnya tetapi sakitnya tidak kunjung pulih, ribuan kali ibunya meminta maaf karna sakit yang di derita anaknya adalah sakit seorang kekasih yang di tinggal mati kekasihnya.
            Kehidupan rumah tangga Ayna jauh dari kata sempurna sesuai syarat yang di ajukan untuk suaminya ia tidak akan mau di sentuh sebelum syarat tersebut di penuhi. Selama itu pula Ayna masih menjadi seorang gadis. Tetapi tidak semua orang tau tentang syarat tersebut tanpa terkecuali Gus Afif. Namun di balik ketidak harmonisan rumah tangganya Ayna masih berharap suatu hari nanti Gus Afif dapat menghalalkannya. Benar saja pernikahan ini hanyalah tameng untuk Yoyok saat dirinya sedang tertimpa sebuah kasus dengan mudah ia menceraikan Ayna untuk di jadikan tumbal kepada seorang bandot tua. Saat perceraiannya sedang di proses Ayna memikirkan banyak cara untuk keluar dari jeratan tangan gurita Yoyok.
            Ayna berhasil melarikan diri ke kota Bogor di sana ia menjadi seseorang yang sangat berbeda, pemikirannya lebih matang dan langkahnya lebih mantab. Di bawah bimbingan bu Rosidah perempuan setengah baya yang berhasil dalam bisnisnya Ayna banyak belajar tentang bisni dan bu Rosidah menjadikan dirinya sebagai tangan kananya. Walupun sudah bergelimang harta tidak menjadikan Ayna lupa diri ia tetap menyibukkan diri dengan rutinitas ibadah harian yang selalu di lakukannya semenjak di pesantren.
            Kondisi Gus Afif sudah kembali seprti dahulu ia gagah seperti biasanya. Namun semenjak dirinya dapat keluar dari bayang-bayang Ayna ia memutuskan untuk mengasingkan diri berkenala mencari ridho Allah dengan meninggalkan kehidupannya yang serba ada. Ternyata selama ini Gus Afif berjalan pada jejak langkah Ayna kemanapun Ayna pergi ia menjadi bayangannya. Tanpa sepengetahuan Ayna dirinya dan Gus Afif hidup berdekatan bahkan mereka menghirup udara yang sama. Takdir memang tidak dapat di tebak kisah mereka berdua seperti kisah Sri Rama dengan Dewi Sinta, ketika Sinta diculik oleh Rahwana sama persis seperti kisah Ayna yang harus jatuh ketangan Yoyok namun Allah masih menginginkan Ayna menjadi bidadari bermata bening untuk Gus Afif. Happy ending akhirnya Ayna menikah dengan Gus Afif.
            Di novel ini kalian akan menikmati kentalnya suasana pesantren di awal bab, dan selanjutnya kita akan di suguhkan dengan dahsyatnya perjuangan Ayna dalam mempertahankan izzahnya sebagai muslimah. Lalu di bab terakhir hal yang paling membuat gw girang yaitu kerennya wawasan kang Abik dalam melukiskan indahnya Yordania. Setiap kali kang Abik mengeluarkan novel terbarunya gw ga pernah bisa tahan untuk cepat-cepat membawa pulang novel tersebut lalu melahapnya, karna dengan wawasan yang di berikan kepada Allah untuk dirinya mampu mengajak para pembaca mengenal banyak hal dari dirinya.

Tangerang, 7 Juli 2017

Indahnya Melukis Hari 

Kamis, 06 Juli 2017

NISAN UNTUK AYAH



          Semakin lama tubuh kaku itu tertutup oleh papan-papan yang dipasang dengan rapih dalam lubang kesedihan. Kini lubang tersebut sudah hampir penuh di selimuti tumpukkan tanah. Gadis bermata belo itu sudah tidak lagi menangisi kepergian ayahnya dengan tegar ia dan Rumia adik semata wayangnya mengikhlaskan kepergian ayah yang selama ini mengisi hari-hari indah bersamanya. Dua tahun belakangan ayahnya divonis menderita kanker perut, awalnya ia tidak mengetahui tentang penyakit ayahya itu tetapi ia bukan anak bodoh yang dapat di bohongi terus menerus dari obat-obatan dan erangan rasa sakit ayahnya akhirnya ia menyadari tentang penyakit serius yang di derita ayahnya. Ternyata alien itu memilih ayahku.
            Saat ini tidak ada lagi orang yang dapat mengajaknya untuk bangkit dari jatuhnya, mengusap air mata dari kehidupan yang keras ini, tertawa bersama bahkan menciptakan melodi dan bait indah. Yang tersisa hanya Rumia adik semata wayang yang harus ia jaga selamanya karna hanya itu pesan dari ayahnya sebelum malaikat mengambil nafas terakhir dari tubuhnya. Kini yatim piatu menjadi julukan baru bagi dirinya, ibu Rani sudah meninggal delapan tahun yang lalu saat melahirkan Rumia selama delapan tahun ini mereka bertiga membagi suka maupun duka menjalankan nafas yang di berikan tuhan.
            Setelah kematian ayah tak satupun keluarga dari ayah dan ibunya yang mau menampung mereka berdua karna alasan ekonomi memaksa paman dan bibi mereka enggan untuk membuka pintu bagi mereka, dengan berat hati Rania dan Rumia harus ikhlas menjalankan masa kanak-kanak di dalam panti.
            “Nak maafkan paman, ini semua paman lakukan untuk kebaikan kalian. Baik-baiklah di panti, paman janji akan mengunjuki kalian kalau paman ada uang”
            Itu kalimat terakhir yang ia dengar dari adik ayahnya. Kini hanya rasa sepi yang akan selalu menjaganya dan air mata teman setia yang selalu melindunginya.
***
            Rania tidak langsung berbaur dengan penghuni panti yang lain, sedangkan Rumia gadis berambut panjang dan murah senyum itu dengan cepat sudah memiliki teman akrab, kakak beradik itu memang memiliki sifat dan karakter yang bertolak belakang. Namun mereka memiliki hobby yang sama yaitu bernyanyi dan bermain alat musik.  Rania lebih banyak diam dan asik melakukan segala hal seorang diri sedangkan kebalikan dari kakaknya Rumia yang ceria mampu menghidupkan suasana dan membuat siapa saja yang ada di sekelilingnya gembira. Dengan kepandaian adiknya dalam bergaul tidak membuat Rania khawatir adiknya kesepian, cukuplah awan mendung menaungi dirinya saja tetapi tidak untuk Rumia.
            Segala hal di panti sangat disiplin dari bangun tidur sampai tidur kembali semuanya sudah ada peraturannya, bagi anak yang melanggar peraturan yang ada maka tidak segan-segan ibu Maria kepala panti untuk menghukum setiap anak yang melanggar peraturan.
            Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 waktunya semua anak harus berkumpul di ruang makan, suasana ruang makan cukup gaduh ada yang sedang berlari, teriak-teriak tidak jelas, memukul-mukul alat makan dan ada juga yang asik mengobrol. Rania hanya bisa memperhatikan tingkah teman-temannya itu ia duduk seorang diri di kursi paling pojok. Tiba-tiba ruangan menjadi sunyi tak ada satupun anak yang berani membuka mulut  mereka, yang tadi berlari pun sudah duduk dengan tenang ternyata kepala panti sudah memasuki ruangan makan. Kak Sazkia salah satu pengurus panti memimpin doa sebelum makan. Selepas makan kami di izinkan untuk masuk ke kamar masing-masing ini waktunya untuk mengerjakan PR kalau ada PR dari sekolah.
            Rania dan Rumia di tidur terpisah mereka di kelompokka sesuai dengan usia mereka, Rania bergabung dengan beberapa anak yang sudah dapat di bilang remaja. Ada sepasang mata yang selalu mengawasinya, tetapi Rania tidak menghiraukannya ia terus fokus dengan buku bahasa Inggris yang ada di depannya karna esok hari ia harus mengumpulkan PR yang di suruh oleh bu Rosa. Hal ini yang menyedihkan bagi dirinya di saa seperti ini ia tidak dapat bertanya pada siapapun dengan pertanyaan yang membuatnya pusing, beberapa kali ia memegang kepalanya dan satu dua kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rania bukanlah siswi yang cerdas di sekolahnya ia selalu kesulitan untuk mengerjakan PR sebenarnya kalau ia dihadapkan pada suatu pilihan bernyanyi atau belajar pelajaran sekolah ia lebih memilih bernyanyi. Tiba-tiba ada butiran air yang keluar dari matanya lagi-lagi ini mengingatkan tentang kenangan dengan ayahnya.
            “Kamu baik-baik aja?” terdengar suara lembut menyapanya. Rania buru-buru menyembunyikan air matanya.
            “Pertama-tama pasti akan terasa berat, tetapi lampat laun kita menjadi kebal dengan rasa ini” Vika mengelus pundak Rania dengan pelan. Rania merasakan rasa yang tak biasa saat Vika mengajak bicara dan menyentuhnya. Ia masih tetap diam tak menjawab pertanyaan temannya itu baginya kesunyian adalah bagian dari hidupnya, tetapi Vika memiliki sorot mata yang berbeda yang dapat meyakinkan dirinya kalau ia butuh Vika untuk mengisi hari-harinya di panti.
            “Hey jangan-jangan kamu nangis karna tidak bisa mengerjakan PR ya?” Vika bertanya dengan jail dan menarik buku yang ada dihadapannya. “It’s so very simple, I can help you” ia pun langsung membaca semua pertanyaan dan membantu Rania untuk menjawbanya.
            “Makasih yah”
            “ok, lain kali kalau kesusahan mengrjakan PR tanya aja sama aku” Vika melempar senyum dan kembali ke tempat tidurnya
***
            Hari ini tepat lima bulan hari kematian ayah Rania setelah kelas bubar Rania langsung merapihkan peralatan sekolah dan memakai tasnya. Jadwal mingguan yang tak pernah ia lewatkan berkunjung ke makan ayahnya setiap hari jum’at. Pak Salim supir panti asuhan sudah tau jadwal Rania ia tidak akan menunggu Rania di depan gerbang sekolah pasti anak tersebut tidak akan ikut pulang dengannya walaupun bu Maria selalu mengomelinya setiap kali ia pulang telat tetapi itu tidak membuatnya takut. Ada perasaan sedih setiap kali dirinya berkunjung pada makam ayahnya, makam ayahnya berbeda dengan makan-makan yang lain tidak ada batu nisan yang tertempel kokoh di atasnya. Mungkin untuk sebagian orang yang akan ziarah ke makam Hilmi tidak akan tahu kalau itu makamnya.
            Pulang dari makam ia mulai berfikir bagaimana caranya ia membeli batu nisan tabungannya tidak akan cukup selama ini Rania memang menyisihkan uangnya untuk di tabung ia mulai menyadari tak lazim makam tanpa nisan.
            “Ada yang lagi di pikirin? Mulai deh ngelamun lagi” suara Vika memecahkan lamunannya
            “Masalah makam ayahku belum ada nisannya. Selama ini aku udah berusaha untuk nabung tapi uangnya belum juga cukup”
            “Tenang jangan sedih ayoo ikut aku” Vika menarik tangan Rania
            “Mau kemana?”         
            Vika mengajaknya untuk menemui bu Sazkia yang sedang membuat adonan roti, selama ini panti berusaha untuk menambah pemasukan dengan berjualan tetapi tidak ada satu anak pun yang di bebankan dengan tugas tersebut, kalaupun ada yang mau bantu boleh-boleh saja dengan syarat kemauan itu lahir dalam diri mereka.
***
            Mulai hari itu Rania mengumpulkan uang dari hasil jualan dan uang sakunya dengan harapan semakin cepat uang dapat terkumpul. Rania dan Vika pun mencoba untuk belajar membuat roti juga karna mereka termasuk anak panti yang sudah remaja bu Maria mengizinkan mereka membantu kak Sazkia.
            Rania sudah bisa menikmati rutinitasnya di panti walaupun hanya Vika teman satu-satunya yang sampai saat ini dekat dengannya. Satu dua kali ketika hari libur Rania mengajarkan Vika untuk bermain alat musik terutama gitar tetapi keduanya tidak pernah mau kalau di suruh bermain di hadapan teman-teman panti dengan alasan karna mereka belum mahir dan takut mengecewakan. Sebenarnya alasan Rania bersahabat dengan Vika karna menurutnya sahabatnya itu juga memiliki karakter yang sama dengan dirinya.
            Rumia selalu asik dengan teman-temannya ada saja kegiatan yang ia lakukan, adiknya itu memang anak yang jarang sekali memberitahu perasaannya pada kakaknya. Tapi malam itu Rumia menangis sejadi-jadinya di kamar Rania ternyata Rumia kangen sekali dengan ayah melihat hal tersebut Rania jadi ikut menitikan air mata.
            “Kalau saja ayah masih hidup, pasti aku bisa beli boneka yang aku inginkan” alasannya menangis karna melihat beberapa teman panti yang mendapatkan hadiah boneka dari sanak saudara yang menjenguk mereka.
            “Sabar ya dek, Insyallah kalau ada uang nanti kakak akan belikan” ia tidak pernah bermimpi paman atau bibinya datang berkunjung untuk melihat mereka, itu mustahil apa lagi meminta paman dan bibinya memberikan mereka uang.
***
            “Coba kamu cari dengan teliti lagi”
            “Aku udah cari untuk yang ke tiga kalinya tapi tetap ga ada” dirinya tersungkur lemas, tabungan yang selama ini ia jaga dengan baik-baik, lapar yang sering ia tahan tatapan sinis beberapa teman yang tidak suka melihatnya berjualan semua terasa sia-sia. Kemana perginya uang-uang yang sudah ia kumpulkan.
            Akhirnya ia putus asa semua isi dalam lemarinya sudah ia keluarkan tetap saja celengan itu tidak ada. Vika turut membantu sahabatnya mencari benda yang di carinya tetapi dirinya juga gagal. Di depan pintu Rumia melihat kakaknya dengan takut, akhirnya ia memberanikan diri untuk menghampiri kakaknya
            “Sebenarnya uang kakak aku yang ambil” ia menunduk sambil memegang erat-erat boneka yang di pegangnya “Maaf, aku sudah tidak sabar mau beli boneka ini” Rumia menunjukkan bonekanya tersebut
            “Kamu tahu kan mengambil milik orang lain itu tidak boleh, ayah selalu mengajarkan kita tentang itu. Kamu lupa?” Rania menetesan air mata ia tidak percaya kalau adiknya sendiri yang mengambil uangnya. “Kakak sudah bilang kalau ada uang pasti akan di belikan, kenapa kamu tidak sabar”
            Rumia hanya bisa menangis ia berkali-kali meminta maaf pada Rania. Vika hanya bisa melihat dengan nanar kedua kakak adik tersebut.
***
            Saat ini Rania sudah mulai putus asa untuk mengumpulkan uang, harga nisan itu mahal untuk anak semiskin dirinya. Sudah beberapa hari ini ia hanya bisa melamun. Bukan hanya soal nisan yang tidak bisa ia beli selama ini ia baru sadar kalau dirinya hanya sibuk dengan rasa sedihnya saja, Rumia keluarga satu-satunya sudah ia telantarkan dengan sia-sia. Padahal tidak sekalipun Rumia pernah minta sesuatu pada dirinya, belum lagi ia selalu terlihat kuat untuk anak seusianya yang di tinggal pergi orang tua, kenapa selama ini ia egois sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
            “Ran di panggil bu Dona di kantor” Andrey memecahkan lamunannya
            “Kenapa?”
            “Hmmm sorry gw cuma di suruh manggil lw doang”
            “Oh. Makasih ya” Dengan malas Rania berjalan menuju kantor guru
            “Assalamualaikum, ibu panggil saya?”
            “Ya Ran, duduk” bu Dona menunjuk kursi yang ada di depannya
            “Ibu tahu loh kalau kamu suka nyanyi Ran”
            “biasa saja kok bu masih banyak teman yang suaranya lebih bagus dari saya”
            “Kamu jangan merendah gitu dong. Pak Dody guru seni yang bicara. Kebetulan sekolah kita di undang untuk mengikuti perlombaan menyanyi antar sekolah. Setelah para guru diskusi nama kamu yang keluar”
            Rania hanya menunduk saat wali kelasnya memintanya untuk ikut perlombaan, bagaimana bisa dirinya bernyanyi dari hari setelah ayahnya meninggal ia sudah memutuskan untuk tidak lagi bernyanyi karna dengan nyanyian membuatnya menangis dalam penderitaan
            “Saya minta maaf sekali, seperti tidak bisa”
            “Maksud kamu?”
            “Saya tidak bisa ikut lomba tersebut”
            “Ga mau di pikir-pikir dahulu”
            “Bisa di berikan kepada siswa yang lain saja bu, pasti mereka lebih baik dari saya”
            Rania undur diri dan berjalan meninggalkan bu Dona tetapi langkahnya terhenti dengan ucapan bu Dona
            “Ada hadiahnya loh, uang tunai dan piala”
            Ia lalu menoleh dan berjalan mendekati wali kelasnya tersebut
            “Hadianya uang bu?”
            “Ya, gini aja kamu bawa dulu formulirnya kalau setuju besok kembalikan ke ibu jangan lupa sudah terisi”
            Mungkin ini jawaban dari tuhan atas doa-doanya, hal pertama yang ia pikirkan adalah dirinya harus menjadi pemenang paling tidak juara tiga, bahkan uangnya lebih dari cukup untuk membeli nisan
***
            Semua kursi sudah terisi penuh oleh penonton para supporter sudah siap memberi semangat untuk jagoan mereka. Di sudut sebelah kiri sudah di penuhi oleh teman-teman sekolah dan panti mereka akan meneriakan nama Rania dengan lantang. Akhirnya nama Rania pun di panggil awalnya ia demam panggung dan tidak bisa mengeluarkan suaranya para penonton dan juri yang melihatnya bingung kenapa Rania tidak bernyanyi. Ia teringat kerbersamaan dirinya dengan ayah dan Rumia ketika sedang bernyanyi yang membuatnya kuat.
            “Lagu ini saya dedikasikan untuk ayah yang sudah jauh di sana, semoga dengan melodi ini ia akan senang melihat saya”
            Seluruh penonton dengan khitmat mendengarkan Rania bernyanyi bahkan sebagian penonton menitikan air mata saat mendengar Rania bernyanyi
            “Untuk ayah tercinta aku ingin bernyanyi walau air mata di pipiku……”
            “Ayah dengarkanlah aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi”

***
Tengerang, 6 Juni 2017
Indahnya Melukis Hari 
#30DaysWritingchallenge#30DWC#Day1
 

Melukis Hari dengan Kata Template by Ipietoon Cute Blog Design